Selasa, 04 Februari 2014

Menghitung Tetes

Ku seka dengan jemari lembutku setiap tetesan yang kini terjatuh .
Ku hapus tetesan ini dari pipiku, seolah aku lupa dan tak ingin mengingat bahwa barusan tadi lagi-lagi aku menetes merindukanmu.
Entah lah ,sudah berapa sering aku menyeka tetesan ini sendiri.
Sudah berapa lama aku pura-pura tak meneteskan air mata ini.
Aku tak ingin tau,aku tak lagi mau tau setiap kali air mata ini menetes akibat merindukanmu.
Tapi semua cara mustahil, bahwa rindu selalu meminta tetesan air mata di pipiku dan bahwa setiap tetesan itu di akibatkan oleh rindu.
Rindu dan tetesan itu seolah pasangan yang sempurna ,dimana mereka saling melengkapi.
Tapi tanpa mereka sadari ada hati yang selalu tersiksa setiap kali rindu memaksa air mata menetes.
Entah lah,dari mana aku harus menghitung tetesan yang pernah terjatuh di pipi setelah kau pergi.
Entah dari mana ku mulai merindukanmu setelah kau pergi.
Mungkin setiap hari.
Bolehkah aku meminta tangan lembutmu dulu yang pernah menyeka tetesan di pipiku,untuk kembali menyekanya lagi sekarang ??
Bolehkahhh ??
Ah ,pasti tanganmu sudah tak selembut dulu, sebab rasamu telah berubah.
Boleh aku mendengar suara rintihan Tangismu dulu setiap kali ku bilang rindu dan ingin bertemu denganmu ??
Ah ,pasti rintihan tangismu sudah tak seperti dulu,sebab rasamu telah berubah.
Boleh kah ,aku bertanya ??
Sampai kapan lagi tetesan ini akan selalu mengalir deras setiap kali merindukanmu ?
Boleh kah aku meminta kau menjawab ??
Ah, pasti kau hanya terdiam seperti patung sebab rasamu telah berubah.
Ya ,biar saja kinj hanya tetesan ini menjadi peke gkap rinduku padamu
Biar saja tangan ku sendiri yang menyeka setiap tetesan ini
Dan
Biar saja waktu yang akan menghitung berapa banyak tetesan ini setelah kepergianmu

Tidak ada komentar:

Posting Komentar